21 July 2012


KETIKA
Sore ini hari teramat panas sampai tak terasa badanku ini telah di basahi oleh guyuran keringat. Memang hari ini terasa berbeda tak sama seperti hari-hari sebelumnya yang terasa begitu sejuk. Berkata dalam hatiku. Saat aku duduk sejenak dan bersandar dibangku yang ada di taman tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang memanggil "Wan, sedang apa kau?". Akupun menjawab panggilan itu dengan sedikit merasa kesal lantaran aku kaget olehnya "Aku sedang duduk, sembari menenangkan diri lantaran cuaca yang begitu panas sekali". Oh...ternyata yang memanggilku tadi adalah sahabatku Rido namanya. Dia adalah sahabatku sejak kami SD sampai kami sekarang telah duduk di bangku kelas 2 sma. Dia adalah sahabatku yang paling mengerti. Tiap kali ada masalah pasti aku larinya sama sahabatku itu. "Wan, tahu tidak kalau di kelas kita itu ada murid baru?". Dengan sedikit bingung aku mennjawab. "Apa, murid baru yang mana?" aku semakin di buat bingung karena aku tidak sekolah lantaran pada hari itu aku pergi ke rumah nenekku di bandung. "oh...iya yah. Kamu kan tidak sekolah. Aku lupa he...." rido tersenyum malu. Aku berbalik bertanya pada Rido lantaran aku masih penasaran siapa murid baru tersebut. "Rid, siapa sih anak baru di kelas kita itu?". "ingin tahu yah..." Rido memancing. "ayolah kawan ceritakan siapa murid baru itu?" semakin kesal. "Oh...oh...baiklah kawan akan ku ceritakan siapa murid baru itu, tolong dengarkan baik-baik yah..." aku semakin tidak sabar. Rido kembali meneruskan pembicaraannya. "Anak baru itu namanya Silvi dia pindahan dari SMA Bina Raharja". "pasti dia cantik" berkata dalam hati sejenak sambil termenung. Kemudian tak terasa waktu sore pun telah pergi tadi yang terasa begitu panasnya kini berganti menjadi dingin yang menusuk tulang. "Hey, wan. Kamu melamun saja. Besok saja aku lanjutin ceritanya di sekolah sekalian kamu lihat langsung bagaimana orangnya. Udah mau malam nih". "Oh..iya baiklah sampai jumpa besok di sekolah sob". Rido pun pergi untuk bergegas pulang sedangkan aku masih terduduk saja lantaran aku masih penasaran dengan murid baru yang bernama Silvi itu. Sudah malam akupun bergegas untuk pulang ke rumah. Tanpa terasa jam pun telah menunjukan pukul 12.00 tengah malam tetapi aku tidak bisa tidur karena aku masih penasaran dengan sosok Silvi itu dan aku ingin segera ke sekolah dan bertemu dengan murid baru tersebut. Terdengar suara ayam dan kicauan burung membangunkan aku dari tidurku. Akupun bergegas untuk mandi dan sarapan pagi. Melihat tingkahku yang tidak biasanya bangun pagi-pagi, ibu pun bertanya karena merasa heran. "Wan, tumben kamu bangun pagi-pagi biasanya kan kamu itu kalau pagi sulit untuk ibu bangunkan" ibu sedikit menyindir. Aku pun tersenyum "Yah dong bu aku kan mau berubah". Ibu pu semakin terheran-heran oleh tingkah ku. Ibu pun kembali menyindir "Apa sih Wan yang membuatmu bisa berubah seperti itu?". Kembali aku pun menjawab dengan tersenyum "Ada aja. Lain kali saja aku ceritakan". Ibu pun mengalah "Baiklah kalau kamu tidak mau beritahu ibu". Waktu pun menunjukan pukul 06.30 aku pun bergegas dan berpamitan pada ibu "Aku berangkat dulu bu". "yah hati-hati di jalan". Singkat cerita aku telah sampai di sekolah. Aku langsung saja bergegas menuju kelapangan lantaran hari ini hari senin untuk upacara bendera. "Wan kamu tidak bisa tidur yah semalam?" "Wah, kok kamu bisa tahu sih rid." Tanya ku lagi "Iya lah, aku juga pernah ngerasain". Sedikit bingung aku bertanya lagi "Ngerasain tidak bisa tidur he.."sambil tertawa senang. Kembali aku coba fokus untuk mengikuti upacara tersebut. Tetapi lagi-lagi aku teringat dengan murid baru yang bernama silvi tersebut. Akupun kembali bertanya pada kawanku yang lain yang ada di sampingku. "Mana sih yang namanya Silvi itu. Katanya dia itu murid baru di kelas kita?" sambil mencari-cari "Oh...silvi yang kamu maksud itu dia ada di barisan yang paling depan. Kamu naksir yah Wan" sambil malu –malu akupun menjawabnya "Nggak mau tahu saja". Akhirnya upacara pun telah selesai akupun bersama-sama kawan-kawan sekelasku bergegas menuju ruangan kelas. Kebetulan pada hari ini tuh pelajarannya pak Dani yang super galaknya pokoknya kalau ada yang tidak memerhatikannya pasti ia akan marah habis-habisan...kami semua pun duduk dan akupun menyiapkan untuk memberikan salam pada pak Dani lantaran aku memang ketua kelas. "Siap berdiri...ucapkan salam" serentak menjawab "Selamat pagi pak". Aku berbisik pada rido menanyakan sesuatu "Mana sih yang namanya silvi itu?" sambil tersenyum rido pun menjawabnya "Itu ada di belakangmu" sambil tersenyum aku tersipu malu ternyata orang yang aku cari itu ada di belakangku. Sambil mengulurkan tangan akupun memperkenalkan diri "Hay nama aku Wandi, kamu pasti silvi yah?" sok akrab "Yah nama aku silvi" tersenyum malu-malu. Wah rupanya silvi itu cantik sekali orangnya tak pernah terbayangkan cerutu ku dalam hati. Tersadar kalau aku sedang belajar pelajaran pak Dani tak ku sangka dia sudah berdiri di belakangku karena aku duduk bersama rido di bangku paling depan sedangkan aku sedang berbalik badan menghadap silvi sebari sesekali memandang wajahnya. "Bagus yah kamu tidak memperhatikan saya, malah enak enakan ngobrol" sambil menjiwir telingaku. Kawan-kawan ku menertawakankanku termasuk kawan ku rido tetapi aku lihat pemandangan berbeda silvi tidak tertawa malah dia seperti merasa kasihan padaku. "Maaf pak, jangan hukum dia. "Saya yang salah tadi mengajaknya mengobrol" silvi membela. Pak Dani semakin marah "Kamu mau membela anak nakal ini, baiklah kalau begitu kalian berdua keluar". Akupun keluar dan pergi meninggalkan kelas meski dengan perasaan kecewa, namun kekecewaan ku hilang lantaran aku keluar bersama silvi. Sambil berjalan pelan aku dan silvi, tiba-tiba silvi berkata padaku "Maafkan aku yah Wan, gara-gara aku kamu jadi di hukum". "oh..tidak apa-apa kok aku juga salah" mengakui. "Sil, kenapa kamu pindah ke sekolah ini". "Aku pindah lantaran ayahku bekerja disini" "oh begitu" mengiyakan. Akupun melanjutkan pembicaraan "Kalau begitu sekarang pergi kemana, mau ke kantin atau ke perpus?" "Ke perpus aja, sekalian kita belajar" "Oh baiklah". Aku dan silvi pun menuju perpus. Hatiku tidak tahu begitu terasa berbunga-bunga ketika berjumpa dengan silvi apalagi bisa berpapasan langsung dan berdekatan dengannya oh indahnya mungkinkah aku jatuh cinta padanya. "Wan, kita sudah sampai" "Oh langsung masuk saja" "yah". Aku pun mengobrol panjang lebar dengannya hingga aku menanyakan apakah dia sudah punya pacar. Dengan serius aku pun bertanya dengan sedikit gugup "Sil, sebelumnya aku minta maaf kalau aku ini lancang" "Oh..iya tidak apa-apa" terheran-heran. "Apa kamu sudah punya pacar?" walau pun gugup akhirnya aku merasa setelah mengatakannya. Dengan gugup pula silvi menjawab pertanyaanku "ee...ee..be..belum wan" tersenyum malu. Hatiku semakin berbunga-bunga dan serasa melayang di udara kalau silvi belum mempunyai kekasih....tet...tet...tet...bel pun berbunyi dan menghentikan perbincanganku dan silvi. Kami pun segera kembali menuju ke kelas...Rido mengejek "Wan, kamu pasti senang yah bisa berduaan sama si silvi" aku hanya tersenyum...aku menjadi semangat belajar karena seperti mendapatkan energi baru. Karena selama ini aku tipikel orang yang sulit untuk jatuh cinta. Yah maklum lah selama ini sudah banyak adik-adik kelas ku yang mendekati aku tapi aku tak menggubrisnya..yah aku gak jelek-jelek amat lah. "Wan, tadi kamu bicara apa saja sama silvi" penasaran. "Tidak ada" sedikit berbohong. "Ach kamu pasti berbohong, cerita dong sama kawan mu ini" mengelas. "Nanti saja aku mau belajar nih" bersemangat. "Gak biasanya" sedikit meledek. Tak terasa bel pulang pun berbunyi aku teringat belum meminta nomor handphonenya silvi. Akupun menghampiri silvi yang sudah berada di luar kelas "sil, tunggu sebentar. Aku lupa aku mau minta nomor handphone kamu, boleh tidak?" mengharap. "oh boleh" memberikan nomor handphonenya padaku. "Makasih sil, sampai jumpa besok" silvi pun membalas salamku dengan senyuman. Sepanjang perjalanan pulang aku merasa melayang-layang karena tidak ku sangkakan bisa mengenal silvi dan bisa jatuh cinta padanya. Sesampainya di rumah aku langsung saja menghubungi silvi dengan mengirimkan sebuah pesan singkat yang berisi ungkapan-ungkapan tentang perasaanku setelah aku bisa mengenalnya walau dia baru ku kenal sehari ini saja tapi rasanya seperti telah mengenalnya selama sewindu. Akhirnya dia pun membalas semua pesan-pesan yang ku kirimkan ke handphonenya, dia sepertinya memberikan sebuah sinyal positif kalau dia juga menyukai aku. Hampir setiap hari aku dan silvi selalu bersama-sama terus baik itu ketika kami sedang di sekolah ataupun pulang sekolah dan kalau telah sampai di rumah kami pasti selalu bercakap-cakapan baik itu melalui telepon langsung ataupun pesan singkat, itu semua hampir berlangsung selama seminggu setelah aku mengenal silvi. Tetapi ada satu hal yang masih mengganjal di dalam hatiku ini, yaitu aku belum sempat mengucapkan kata cinta langsung kepada silvi lantaran aku terlalu bahagia. Sampai suatu ketika aku menghubungi silvi dan mengirimkan banyak pesan singkat dia tidak pernah membalasnya yang membuat aku merasa cemas. Sampai-sampai dia pun tidak pernah kelihatan sekolah lagi hampir-hampir seminggu lamanya. Aku pun mencoba bertanya pada teman dekatnya silvi "Maaf nin, kamu tahu tidak silvi kemana?" cemas "aku tidak tahu dia tidak pernah memberitahu aku sudah hampir seminggu ini". Aku semakin cemas dan merasa menyesal sebab aku belum sempat mengucapkan kata cinta padanya. Sampai suatu ketika silvi memberikan suatu kabar melalui pesan singkatnya padaku "Wan, sebelumnya maafkan aku kalau aku tidak memberikan kabar terlebih dahulu kepada kamu sebenarnya aku telah pindah keluar kota lagi lantaran orang tuaku mendadak untuk pergi keluar kota dan aku pun terpaksa harus ikut dengan kedua orang tua ku untuk itu maafkanlah aku yah wan semoga kamu bisa bahagia walau kita tidak bisa bertemu lagi tetapi aku berharap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali. Sampai jumpa wan" membaca pesan singkat itu membuat aku terluka dan tak terasa air mataku pun menetes tak tertahankankan. Berhari-berhari, berbulan-bulan sampai tahun pun berganti tak terasa olehku karena yang kurasakan hanyalah hampa disekolah pun aku menjadi orang pendiam jarang sekali bergaul dengan teman yang lainya. Sampai tak terasa aku pun telah menyelesaikan SMA ku dan aku pun berencana untuk pergi kuliah di jogja. Dalam hati berkata "Oh...tak terasa dua tahun sudah aku tak berjumpa dengan silvi, bagaimana dengan dia sekarang dan bagaimana keadaan dia sekarang. Oh tuhan pertemukanlah lagi aku dengan dia." Harapanku dalam hati kecil. Di kota ini aku akan meninggalkan sebuah kenangan indah bersama silvi walaupun pertemuaku itu teramat sangat singkat sampai jumpa lagi kenangan indah.... sesampainya di kota gudeg, aku langsung saja meneju tempat kuliah ku nanti dan sekalian aku mencari tempat kost. Aku sendiri menyusuri jalan-jalan menggunakan mobil baru ku maklum lah aku baru di berikan mobil oleh ayahku ketika aku sudah kuliah. Akhirnya aku menemukan sebuah tempat kost yang pas dan nyaman buat aku tempatnya yang strategis dan tenang lantaran tidak terlalu dekat dengan jalan. Disana aku bertemu dengan teman-teman baru. Salah satunya seorang perempuan cantik yang bernama mawar. Mawar adalah orang pertama yang ku kenal ketika berada di jogja. Hari pertama masuk kuliah pun telah tiba dengan semangat baru akupun menuju ke tempat kuliah ku ini. Disinilah aku mulai mengenal banyak teman serasa aku berada di kota ku sendiri. Sampai suatu ketika di perkuliahan aku bertemu dengan seorang wanita yang pernah ku kenal dulu waktu aku duduk di kelas 2 SMA. Kembali aku coba mengingat-ingat dan aku akhirnya teringat dengan sosok yang selama ini sangat aku rindukan yaitu silvi. Oh tuhan apakah aku bertemu kembali dengan silvi harapanku dalam hati. Aku pun coba mencari tahu dan ternyata benar saja kalau dia adalah silvi. Akupun coba mendekatinya "Maaf aku boleh kenalan tidak?" aku mengharap. "Boleh. Nama aku silvi" tersenyum manis. Aku pun semakin bersemangat "Nama aku wandi". Silvi sempat melamun dalam hatinya "Aku seperti tidak asing dengan orang ini, aku seperti mengenalnya waktu aku SMA dulu, apa benar dia wandi yang dulu aku kenal?" aku memandanginya dan melihatnya sesekali. Memang kecantikannya tidak pernah luntur malah dia semakin ayu saja. Silvi melanjutkan "Apakah kamu wandi irawan yang dulu ku kenal?" aku tersenyum bahagia ternyata dia masih mengenalku "Ya, itu namaku". Silvi pun meneteskan air matanya dia pun langsung memeluk erat tubuhku seperti tidak mau kehilangan. "Maafkan aku wan aku telah meninggalkan kamu dahulu padahal sebenarnya waktu itu aku sangat mencintai kamu" menangis haru "Ya, aku juga sama sil

No comments:

Post a Comment